Cara Pandang: Kacamata Kuda


Saat ini di persekutuan kampus sedang membahas dan mengupas sebuah buku, intinya tentang mempunyai visi yang baru dan mempunyai cara pandang yang benar. Kemudian muncul sebuah diskusi mengenai apakah teknologi dan ilmu pengetahuan yang kita miliki dan kembangkan sedemikian rupa telah memperhamba kita, manusia. Ada satu ilustrasi menarik yang dibawakan oleh seseorang (sebut saja namanya Halim, bukan nama samaran :p).

Pada saat awal manusia menciptakan pisau tujuannya untuk sesuatu yang baik, digunakan untuk memotong makanan, keperluan berburu, dan sebagainya. Pada awalnya pisau tersebut tercipta dengan baik. Namun di kemudian hari ternyata pisau tersebut digunakan untuk hal-hal yang tidak baik, untuk membunuh, mengancam, mencuri, dan lain sebagainya. Lalu siapakah yang salah? Apakah pisau tersebut atau orang yang menggunakannya? Hal ini bisa disebabkan oleh dua sudut pandang yang melihat pisau itu bisa digunakan untuk apa.

Sama juga dengan teknologi, atau apapun yang ada di dunia ini, dari sudut pandang kebenaran maka bisa dipakai untuk memaksimalkan kesehjateraan manusia. Namun, kalau dari sudut pandang anti-kebenaran justru bisa digunakan sebagai penghancur kehidupan itu sendiri.

Memang butuh hikmat untuk dapat memandang segala sesuatunya dari cara pandang kebenaran. Atau saya menyebutnya dengan “kacamata kuda” dimana kacamata itu membuat kita hanya memandang lurus ke depan, ke jalan yang benar dalam pola-pola yang benar. Kacamata tersebut tidak akan membuat kita dapat melihat ke kiri dan ke kanan yang justru dapat mengganggu tujuan mula-mula.

Dan pada akhirnya tujuan dari semua ini adalah “Be a True Witness.”

 

Agus Pahala Simbolon

Advertisements

Smaller is Bigger: Belajar Dari Negara Kecil


Beberapa waktu yang lalu, Direktur Trade Office of Swiss Industries di Taiwan, Mr. Jost Feer, datang dan memberikan seminar bagi mahasiswa internasional. Beliau memaparkan dan menceritakan negaranya, Swiss, kepada peserta seminar. Mulai dari sejarah, kehidupan masyarakat, politik, ekonomi, pendidikan, dan bidang-bidang lainnya. Cukup tercengang dengan presentasi beliau. Lebih tepatnya tercengang kagum dengan negara Swiss.

Dengan luas negara yang hanya 41,285 km2 (bandingkan dengan Pulau Jawa yang seluas 138,794 km2), Swiss mampu menjadi negara yang sangat stabil baik dalam hal ekonomi, politik, dan pendidikan. Bahkan Swiss pada tahun 2011 menjadi negara terkaya (kekayaan per kapita) di dunia. Padahal Swiss hampir tidak mempunyai bahan mentah untuk industri. Sebagian besar bahan baku industri diperoleh dengan cara impor. Kemudian industri di Swiss terdiri dari 99% usaha kecil dan menengah. Artinya semangat berwirausaha di Swiss tergolong sangat tinggi. Mr. Feer bercerita bahkan ketika masih mahasiswa, anak-anak muda di Swiss sudah dirangsang untuk membangun kreativitas berwirausaha sehingga jumlah wirausaha di Swiss terus bertambah.

Dari segi politik, Swiss adalah negara yang benar-benar demokratis. Keputusan-keputusan strategis diambil oleh rakyat sehingga keputusan tersebut bisa merepresentasikan keinginan warga Swiss. Karena itu di Swiss juga sering diadakan referendum.

Hampir sama juga dengan Taiwan, yang sedikit lebih kecil dibandingkan Swiss. Sering mendapat tekanan dari negara tetangga sehingga menyulitkan Taiwan dalam membangun hubungan diplomasi dengan negara luar tidak menyurutkan negara ini untuk terus berkembang. Di tengah-tengah tekanan politik dan sumber daya alam yang relatif tidak banyak, Taiwan mampu berjuang menjadi salah satu negara paling maju di Asia. Budaya disiplin dan teratur di negara ini sangat kental. Contohnya adalah lalu lintas yang begitu rapi dimana semua pengguna mentaati aturan-aturan tanpa ada yang melanggar. Jalan selalu disebelah kanan dan begitu menghargai pengguna sepeda dan pejalan kaki. Negara ini sebenarnya sangat bebas dan tidak terlalu memusingkan hal-hal yang tidak esensial.

Kalau dibandingkan dengan Indonesia, secara ekonomi dan politik, tentu saja masih tertinggal sangat jauh dibanding negara-negara kecil ini. Indonesia punya sumber daya bahan baku yang luar biasa melimpah dan potensial untuk digunakan sebagai dasar pembangunan. Kekuatan utama Indonesia sebenarnya adalah sumber daya manusia yang banyak, salah satu yang paling banyak di dunia. Kalau saja semua potensi itu dapat dioptimalkan bukan tidak mungkin Indonesia bakal menjadi negara yang sangat kuat dan stabil kedepannya.

Kalau saja anak-anak muda Indonesia berhenti menggalau untuk hal-hal yang tidak penting dan mengeluhkan hal-hal kecil, pemuda bisa menjadi kekuatan baru untuk membangun. Swiss, Taiwan, dan negara-negara maju lainnya lahir dari visi yang besar rakyat-rakyatnya. Kehilangan atau tidak mempunyai visi dapat berarti masa depan yang kabur, tidak jelas, dan tanpa arah. Karena itu, pondasi pendidikan ilmiah dan karakter sangat dibutuhkan untuk dapat memberdayakan potensi manusia yang besar jumlahnya ini.

Semoga, ya semoga saja kita dapat belajar dari negara-negara kecil ini untuk menjadikan negara kita lebih baik lagi.

 

Agus Pahala Simbolon

Kelinci vs Kura-kura: Siapa yang lebih cepat?


This story is not originally from me. I took this story from somewhere else. I think this is a very good story that teach us a lesson how we can reach our goals. Enjoy this! 🙂

123Pada suatu hari seekor kura-kura dan kelinci saling adu argumen tentang siapa yang paling cepat diantara mereka. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengadakan kompetisi lari untuk mengetahui siapa yang lebih cepat. Mereka menyepakati rute perlombaan tersebut dan mulai berlari. Kelinci melesat kencang di depan. Merasa dirinya diatas angin, si kelincipun beristirahat sejenak di bawah pohon dan akhirnya tertidur. Akhirnya si kura-kura mendahului si kelinci dan akhirnya memenangi kompetisi tersebut.

Pelajarannya adalah: SLOW and STEADY wins the race. Lambat namun konsisten memenangi perlombaan.

234

Si kelinci merasa kecewa karena kekalahan tersebut dan merasa tidak terima karena dia kalah karena terlalu percaya diri, ceroboh, dan meremehkan lawannya. Lalu dia menantang si kura-kura untuk berlomba kembali. Kura-kura menerima tantangan tersebut dan mereka mulai berlari. Belajar dari kesalahan sebelumnya si kelinci terus berlari dan tidak mau berhenti sampai garis finish. Akhirnya si kelinci pun memenangkan kompetisi tersebut.

Pelajarannya adalah: FAST and CONSISTENT will always beat the slow and steady. Yang cepat dan konsisten selalu bisa mengalahkan mereka yang lambat meskipun konsisten.

Tidak mungkin si kura-kura dapat mengalahkan si kelinci dengan format kompetisi dan rute seperti itu. Akhirnya si kura-kura menantang si kelinci untuk bertanding kembali namun menggunakan rute yang berbeda. Si kelinci pun setuju dan mereka mulai berlomba. Dengan kepercayaan diri si kelinci berlari dengan cepat dan konsisten hingga akhirnya dia sampai di tepi sungai yang lebar. Garis finish berada beberapa kilometer di seberang sungai dan si kelinci hanya duduk memikirkan apa yang harus dilakukan. Lalu si kura-kura pun sampai di tepi sungai dan mulai berenang hingga ke seberang. Si kura-kura pun memenangkan pertandingan tersebut.

Pelajarannya adalah: First identify your core competency and then change the playing field to suit your core competency. Cari tahu apa keunggulan utama kita dan ubah jalannya sesuai dengan kompetensi kita. The smarter one will wins.

Akhirnya si kelinci dan kura-kura menjadi teman baik yang sangat dekat. Mereka menyadari bahwa pertandingan terakhir dapat dilalui dengan cara yang jauh lebih baik. Lalu mereka mengulangi lomba tersebut namun kali ini mereka melakukannya sebagai sebuah tim. Si kelinci mulai berlari sambil menggendong si kura-kura. Tiba di tepi sungai si kura-kura berganti menggendong si kelinci lalu berenang menyeberangi sungai tersebut. Mereka dapat menyelesaikan rute tersebut jauh lebih cepat dari pertandingan sebelumnya,

Pelajaran dari cerita ini adalah: It’s good to be individually brilliant and to have strong core competencies; but unless you’re able to work in a team and harness each other’s core competencies, you’ll always perform below par because there will always be situations at which you’ll do poorly and someone else does well. Adalah sangat baik menjadi orang yang brilian secara individual dan mempunyai keunggulan. Namun, jika tidak mampu bekerja dalam tim dan memanfaatkan keunggulan orang lain, kita akan selalu bekerja dibawah standar karena selalu ada situasi dimana kita buruk dalam melakukannya dan orang lain dapat melakukannya dengan baik.

kelinci-kura2

Obrolan Menarik dengan Seorang Profesor


Pada hari senin yang lalu (23/9) saat menunggu untuk bertemu dengan Thesis Advisor, seorang profesor mengajak untuk mengobrol sebentar. Profesor ini tahu dan kenal dengan saya karena saya adalah salah satu dari tiga orang yang mengambil kelasnya, jadi wajar saja dia ingat. Ketika masuk ke kantornya langsung terpaku pada jumlah buku yang ada di rak bukunya. Luar biasa banyak mungkin ada 10 kali lipat jumlah buku saya dan itu semua adalah buku sains, bukan novel seperti punya saya.

Profesor ini lalu bertanya tentang bidang riset saya, ketika saya ceritakan riset saya kepada beliau, beliau langsung menunjukkan buku-buku yang berkaitan dengan riset saya. “Pernah membaca buku ini? Ini buku yang sangat bagus untuk bidang ini” tanya beliau, saya melihat buku itu dan menjawab, “tidak profesor, saya tidak pernah baca buku yang ini.” “Oh really? Ini adalah buku yang sangat umum dipakai di bidang ini” lalu dia menunjuk buku yang lain, “buku ini juga buku yang sangat bagus jika mau pakai pendekatan yang lain”, lalu saya jawab “tidak pernah baca juga profesor”. Dan beliau menunjukkan buku-buku yang lainnya dan jawaban saya sama saja, tidak pernah membaca buku tersebut (mendengarnya saja belum pernah). Dari cara beliau menjelaskan buku-buku itu terlihat bahwa dia sudah membaca dan memahami buku-buku itu (mungkin semua bukunya sudah dibaca). Lalu beliau menawarkan apabila saya butuh bantuan dan buku saya dapat datang kepadanya.

Pada saat itu ada rasa malu juga yang terselip. Saya pikir saya telah banyak baca buku sains, ternyata itu belum seberapa jumlahnya. Memang ini juga yang jadi kelemahan saya dan mahasiswa Indonesia pada umumnya, yaitu malas baca buku sains. Sangat bergantung pada cara instan yaitu mencari informasi via mesin pencari.  Seringkali kita bertanya tentang suatu topik pelajaran kepada dosen atau kakak kelas, padahal semua jawaban ada di dalam buku namun kita terlalu malas untuk membaca dan mencari cara mudah, yaitu bertanya. Itu sebabnya seringkali di kalangan mahasiswa fondasi teori dan aplikasi itu sangat lemah dan dangkal, karena banyak dari tujuan kuliah itu untuk memenuhi angka kredit dan memperoleh nilai yang bagus. Jadi tujuan belajar adalah agar dapat mengerjakan tugas dan menjawab soal ujian.

Satu hal yang juga menarik di kampus ini adalah jumlah publikasi penelitian yang (pakai standar peneliti Indonesia) luar biasa jumlahnya. Satu orang dosen atau profesor bisa menghasilkan sekitar 50 – 70 publikasi ilmiah yang jika dituliskan dalam CV itu bisa delapan lembar sendiri. Wajar saja jika negara ini kemajuannya sungguh pesat. Penelitian dilakukan dengan tujuan pengembangan yang murni, tidak sekadar memenuhi tanggung jawab penelitian. Dan wajar saja peringkat universitas di negara ini merangkak naik terus sedangkan perguruan tinggi di Indonesia justru cenderung turun.

Semoga suatu saat Indonesia bisa belajar banyak dari negara-negara yang maju tersebut. Dasar dari pembangunan nasional adalah kualitas sumber daya manusia yang dibangun dari fondasi pendidikan yang kuat secara kompetensi maupun karakter. Apalagi didukung oleh bonus demografi pasti potensinya akan lebih besar. Ya, semoga negeri kita bisa belajar.

 

Agus Pahala Simbolon

Mengenal Lebih Dalam Teknik Industri


Industrial Engineering

Banyak orang yang masih bingung sebenarnya Teknik Industri itu mempelajari apa dan nantinya bakal jad apa setelah lulus. Jika dibandingkan dengan jurusan teknik lainnya, Teknik Industri bisa dikatakan area yang masih baru dan awam bagi mayoritas orang. Teknik Elektro orang pasti bisa menebak bahwa didalamnya bakal belajar tentang listrik dan aplikasinya, Teknik Sipil belajar tentang konstruksi, dan lainnya. Lalu Teknik Industri itu belajar apa? Belajar tentang industri kah?

Beberapa orang mengatakan bahwa Teknik Industri mempelajari semua bidang, tidak fokus, dan tidak punya area yang spesifik. Ketika saya tahun pertama di Teknik Industri juga menjadi bingung setelah melihat kurikulum Teknik Industri yang ada belajar tentang anatomi tubuh dan hal lain yang berbau biologi, lalu ada psikologi individu dan sosial serta ilmu sosial lainnya, selain tentunya mempelajari dasar-dasar keteknikan seperti matematika dan fisika.

Definisi Teknik Industri yang diberikan oleh Institute of Industrial Engineers (IIE) adalah:

Teknik Industri menyangkut dengan desain, pengembangan, dan instalasi sistem yang terintegrasi dari manusia, material, informasi, peralatan, dan energi. Teknik Industri mengacu pada pengetahuan dan kemampuan yang spesifik pada matematika, fisika, dan ilmu sosial bersama dengan prinsip-prinsip dan metode dari perancangan dan analisis keteknikan, untuk menentukan, memprediksi, dan mengevaluasi hasil yang diperoleh dari sistem.

Dari definisi ini sendiri dapat kita tahu kenapa Teknik Industri harus mempelajari banyak bidang, karena yang dirancang dan dievaluasi adalah sebuah sistem. Yang namanya sistem adalah integrasi dari banyak komponen yang menyatu membentuk kesatuan untuk meraih suatu tujuan. Ya bagaimana bisa mempelajari suatu sistem tanpa mengenali komponen-komponen didalamnya.

Saya akan berbagi beberapa yang saya ketahui dan “alami” mengenai Teknik Industri.

1. We are not domain-specific, we are method-driven

Nah, seperti yang telah diceritakan diatas bahwa jurusan-jurusan yang lain kita bisa langsung tahu bahwa jurusan tersebut terkait dengan bidang tertentu. Itulah yang dimaksud dengan domain-specific. Jurusan yang fokus pada bidang tertentu. Teknik Industri berbeda. Teknik Industri dapat berada dalam banyak bidang dan permasalahan dan seorang sarjana Teknik Industri dibekali dengan beragam metode dan perspektif untuk dapat menjawab permasalahan yang dihadapi.

2. We are not generalist, we are system specialist

Justifikasi orang luar terhadap mahasiswa Teknik Industri adalah terlalu umum, mempelajari terlalu banyak bidang namun tidak secara mendalam sehingga tidak jelas arahnya kemana. Nah, seperti definisi dari IIE tersebut bahwa seorang sarjana Teknik Industri harus mampu bekerja pada sistem. Sedangkan sistem itu mempunyai banyak komponen didalamnya. Sehingga sebenarnya Teknik Industri bukanlah mempelajari semua (banyak) bidang, tetapi mempelajari sistem itu sendiri. Sehingga ahli Teknik Industri dapat dikatakan juga spesialis sistem.

3. Helicopter view

Ada sebuah ilustrasi mengenai kebakaran hutan. Dalam proses pemadaman kebakaran hutan tersebut ada dua tipe orang yang bekerja didalamnya. Tipe pertama adalah orang yang turun ke lapangan (hutan) dan memegang alat pemadam dan memadamkan api. Sedangkan tipe kedua adalah orang yang berada di atas helikopter sehingga dapat melihat wilayah yang kebakaran dan menginformasikan kepada orang yang pertama mengenai strategi dan lokasi pemadaman. Seorang insinyur Teknik Industri bekerja pada tipe orang yang kedua. Melihat gambaran besar dari suatu sistem atau permasalahan dan mengembangkan solusi. Sehingga pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan sistemik bukan pendekatan parsial.

4. Socio-technological approach. Consider the Human!

Faktor manusia menjadi sangat penting dalam dinamika pekerjaan. Seringkali yang terjadi bukanlah kegagalan mesin atau peralatan, namun kesalahan manusia yang berujung pada kegagalan pekerjaan. Karena itulah penting untuk mempertimbangkan faktor manusia dalam perancangan dan evaluasi suatu sistem. Baik itu interaksi antara manusia dengan manusia, maupun manusia dengan mesin (peralatan kerja). Itulah mengapa di Teknik Industri juga dipelajari beberapa dasar ilmu sosial seperti psikologi manusia dan organisasi.

5. It’s all about optimization, productivity, efficiency, and effectivity

Pada dasarnya tujuan akhir dari semua pekerjaan yang dilakukan oleh ahli Teknik Industri adalah mencapai solusi yang optimal, meningkatkan produktivitas, memaksimalkan efisiensi dan penggunaan sumber daya yang paling efektif. Dan dalam banyak kasus semuanya dihitung dalam nilau uang. Karena itulah di Teknik Industri juga akan belajar banyak tentang ekonomi (baik makro maupun mikro) dan akuntansi.

Lalu prospek kerja seorang lulusan Teknik Industri itu apa? Berdasarkan pengalaman dan melihat alumni-alumni yang telah bekerja ternyata seorang lulusan Teknik Industri dapat bekerja di banyak sekali bidang. Mulai dari manufaktur, perbankan, bisnis, pertambangan, perdagangan, rumah sakit, dan banyak tempat lainnya. Memang secara spesifik ilmu Teknik Industri lebih banyak dipakai di bidang manufaktur dan produksi, namun metode dan model berpikir Teknik Industri juga dapat digunakan di berbagai bidang.

Ada beberapa video yang bisa menjelaskan tentang Teknik Industri (Industrial Engineering) tersebut.

Karena itu, jangan pernah bingung dengan yang namanya Teknik Industri. Bagi yang sudah “terjebak” di Teknik Industri percayalah bahwa kalian terjebak di dunia yang indah.

Best regards,

Agus Pahala Simbolon

Doa Siapa yang Mau DIA Jawab?


Ada kisah mengenai dua orang yang cinta Tuhan. Yang satu bekerja sebagai petani dan yang satunya lagi bekerja sebagai penjual keliling. Mereka berdua adalah orang yang terkenal karena kebaikan hatinya dan ibadah mereka yang penuh dengan ketulusan. Mereka juga sama-sama mengajak keluarga mereka untuk mengenal Tuhan dan berjalan dalam jalan-Nya. Kemudian datanglah suatu musim dimana si petani membutuhkan air untuk mengairi sawahnya sedangkan waduk desa sudah kering sehingga dia berdoa agar hujan turun dan mengairi sawah-sawah di desa tersebut. Lain lagi doa si penjual keliling tersebut. Dia berdoa agar hujan jangan turun sehingga dia dapat berkeliling untuk menjual dagangannya. Dua orang yang sama-sama beribadah dan berdoa, namun memiliki permintaan doa yang saling bertentangan. Kira-kira Tuhan bakal jawab doa yang mana?

Aku pernah berada dalam kondisi seperti itu. Dalam sebuah kompetisi aku berdoa agar aku dapat menampilkan performa yang baik dan menjadi pemenang dalam kompetisi tersebut. Ternyata aku kalah dalam kompetisi tersebut. Sempat tersimpan keluhan mengapa Tuhan tidak memberi kesempatan padaku untuk menang. Kemudian tiba-tiba terpikir sesuatu, “memangnya cuma aku yang berdoa di ruangan ini?” Mungkin saja seluruh peserta juga ikut berdoa pada saat itu, dan tentu saja semua mengharapkan kalau dirinya yang bakal menjadi juara. Lalu pertanyaan yang sama dengan ilustrasi diatas, doa siapa yang bakal dijawab Tuhan?

Perenungan ini sendiri membuatku menyadari bahwa manusia boleh berharap dan berencana, namun biarlah Kedaulatan Tuhan yang nyata. Toh, Dia juga mempunyai rencana dan rancangan yang indah bagi setiap ciptaan-Nya. Sayangnya, banyak yang menjadikan Tuhan sebagai pembantu bukan lagi Tuhan. Kalau tidak mendapat jawaban doa malah menyalahkan Tuhan dan mengeluh bahwa Tuhan tidak sayang pada kita. “Tuhan” dijadikan sebagai pemenuh dan pemuas kebutuhan pribadi bukan sebagai Master yang merancang hidup kita.

Inti dari tulisan ini sebenarnya adalah: Tetaplah berdoa, kerjakan yang terbaik, selebihnya serahkan pada Dia yang mengatur segalanya.

God bless us.


Don’t you ever walk away from me like that,
Don’t you ever give up everything on me,
Don’t you ever let me go
Don’t you ever say no,
Don’t you tell me anything is impossible,
Every day I’ll just wonder about you,
Never thought my love for you grew every day and,
When I am always with you I can’t stop smiling and,
It seems like heaven every time,
To make it alright, make it alright, alright

It is you, who light up my life like that,
Who gave me the strength and hope to carry on, of moving on my life,
It is you, who light up my life like that,
Who give me the strength and hope to carry on, of moving on my life.

May be someday I will understand how you feel,
All I need is some time to know you more,
Every time single time I think,
Every time single time I dream,
Every time single time I wonder is about you,
Most of the times when I’m down I need you,
To cure my pain and light up every sorrows,
When we are talking on the phone my heart feels so weak and I’ll always miss you even more,
Is this call love? I know so, Maybe some day..

It is you, who light up my life like that,
Who gave me the strength and hope to carry on, of moving on my life,
It is you, who light up my life like that,
Who give me the strength and hope to carry on, of moving on

Every day, every minute, every second, every time, all I do is think of you,
When I cry, when I’m down, when I laugh, when I sing, you were always there beside me,
To make things right and get me through everything together,
Be mine forever,
Never say never til the end,

It is you, it is you, it is you,
It is you, who light up my life like that,
Who gave me the strength and hope to carry on, of moving on my life,
It is you, who light up my life like that,
Who give me the strength and hope to carry on, of moving on my life,

Don’t you ever let me go,
Don’t you ever say no,
Don’t you tell me anything is impossible.

Song by : Natasha Yap

Song Title : It is you

Tribute to : My precious gift from God, my beloved and dream, Dewi Ayu Kusumawardhani

IT IS YOU